Rabu, 20 Agustus 2008

Alkitab

I) Macam-macam pandangan terhadap Alkitab.

Orang / golongan yang berbeda tentu akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang Alkitab. Di sini saya hanya akan membahas pandangan terhadap Alkitab dari orang-orang yang dianggap sebagai ‘orang kristen’.

1) Pandangan Liberal.

a) Pandangan dan ciri khas golongan Liberal.

Golongan Liberal beranggapan bahwa ‘Kitab Suci bukanlah Firman Allah’, atau bahwa ‘Kitab Suci mengandung Firman Allah’.

Kalau dikatakan bahwa ‘cincin ini mengandung emas, maka artinya adalah bahwa cincin ini tidak terbuat dari emas murni, tetapi ada campuran logam lain. Demikian juga kalau dikatakan bahwa ‘Kitab Suci mengandung Firman Allah’, maka itu berarti bahwa dalam Kitab Suci ada bagian-bagian yang adalah Firman Allah, dan ada juga bagian-bagian yang bukan Firman Allah. Dan bagian-bagian yang bukan Firman Allah itu tentu saja bisa salah.

Contoh:

1. Dalam Majalah ‘PENUNTUN’ terbitan GKI Jawa Barat, vol 2, No 6, Januari - Maret 1996, ada artikel yang berjudul ‘Keselamatan dalam pandangan Yesus’. Dan dalam artikel itu ada kata-kata sebagai berikut:

“Jelas, betapa berartinya peranan penulis dalam menampilkan Yesus. Jika demikian, apakah tidak mungkin penulis telah menambahi atau mengurangi, bahkan keliru dalam menafsirkan / mengerti, pengajaran Yesus? Jawabnya tentu saja mungkin. Sebab ternyata injil yang tertua, yaitu injil karangan Markus, ditulis sekitar tahun 60. Itu berarti injil ini ditulis setelah sekitar tahun 30 (tigapuluh) saat peristiwa Yesus terjadi. Kita dapat membayangkan kesulitan Markus ketika menyusun Injilnya. Ia harus memilah-milah kisah-kisah lisan yang ada dan ingatan-ingatan yang tidak beraturan untuk menyajikannya dalam wujud tulisan yang memiliki alur logika yang jelas dan teratur - hal 181.

2. Dalam Majalah ‘Kairos’, bulan Mei 1994, ada surat pembaca (dan pembaca tersebut sekarang menjadi seorang pendeta GKI) yang mengatakan sebagai berikut:

“Liputan Kairos tentang proses pembuatan Alkitab dalam edisi bulan Maret yang baru lalu merupakan sumbangan yang berharga bagi umat Kristen di Indonesia (GKI) yang, dalam bayangan saya, jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali mendengar ‘rahasia’ tersebut. Liputan tersebut sekaligus juga merupakan peringatan bagi golongan tertentu yang begitu saja menyamakan Firman Allah dengan Alkitab. Bukankah proses terjadinya Alkitab itu rumit dan melalui seleksi serta penafsiran yang bisa jadi memiliki motif politik / ideologis? - hal 5.

Golongan Liberal memang mempunyai ciri khas merendahkan otoritas Kitab Suci, baik dalam hidup, kepercayaan, maupun ajaran mereka. Karena itu kalau saudara bertemu dengan orang (khususnya hamba Tuhan!) yang dengan gampang mengabaikan / mengesampingkan / menyalahkan Kitab Suci, saudara perlu berhati-hati, karena mungkin sekali itu adalah orang dari golongan Liberal.

b) Cara menghadapi pandangan ini.

Kalau saudara bertemu dengan orang yang mengatakan bahwa ‘Kitab Suci hanya mengandung Firman Allah’, maka tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini:

· Kalau memang Alkitab hanya mengandung Firman Allah, lalu bagian mana yang adalah Firman Allah, dan bagian mana yang bukan Firman Allah?

· Apa kriteria yang engkau pakai untuk menentukan bagian yang satu sebagai Firman Allah dan bagian yang lain sebagai bukan Firman Allah? Dan dari mana engkau mendapatkan kriteria seperti itu?

· Dengan otoritas apa / siapa engkau bisa menetapkan bagian yang satu sebagai Firman Allah dan bagian yang lain sebagai bukan Firman Allah? Bukankah seharusnya Kitab Suci yang adalah Firman Allah itulah yang menghakimi manusia (Yoh 12:47-48), dan bukan manusia yang menghakimi Kitab Suci?

c) Liberalisme yang terselubung.

Satu hal lagi yang perlu diwaspadai adalah orang / gereja Liberal yang slogannya tetap benar, yaitu ‘Alkitab / Kitab Suci adalah Firman Allah’, tetapi:

1. Penguraian slogan itu bertentangan dengan slogannya.

Dengan kata lain, slogannya benar, yaitu bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’, tetapi pada waktu slogan itu diuraikan / dijabarkan, maka terlihat bahwa maksudnya sama sekali bukanlah bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’.

Contoh:

a. Dalam Majalah ‘PENUNTUN’ yang dikeluarkan oleh GKI Jawa Barat, vol. 1, No. 2, Januari - Maret 1995, hal 116, bagian ‘Pengantar Redaksi’, ada kata-kata sebagai berikut: “Tulisan yang menyoroti tema sajian ini disiapkan oleh Pendeta. .... Sementara ia menegaskan bahwa firman Allah itu senantiasa lebih luas dari Alkitab, ia pun menekankan bahwa Alkitab itu betul-betul firman Allah yang sampai kepada manusia dalam matra ganda, yang tidak tercampur tetapi juga tidak terpisah, yaitu matra ilahi adikodrati dan matra insani kodrati. Dengan pendekatan seperti ini, ia berusaha menempatkan posisinya seimbang di antara kalangan yang menekankan bahwa Alkitab adalah firman Allah dan kalangan yang menegaskan bahwa Alkitab mengandung firman Allah.

Selanjutnya dalam artikel berjudul ‘Alkitab dan Firman Allah’ yang ditulis oleh Pendeta. ..... dalam majalah tersebut di atas dikatakan sebagai berikut:

“Kalau Anda bertanya kepada saya: ‘Apakah saya percaya Alkitab adalah Firman Allah?’, maka dengan segera dan tanpa ragu saya akan menjawab, ‘Ya, saya percaya dengan segenap hati!’. Saya pun sungguh-sungguh berharap agar setiap warga jemaat dan setiap pendeta (khususnya, seluruh anggota dan pendeta GKI) juga mengaminkannya. Apa sebab? Sebab itu pula yang kita ‘amin’ kan sebelum kita menerima baptisan dan pentahbisan kita !” (hal 121).

Dilihat dari kata-kata ini, maka kelihatannya Pendeta. tersebut mempunyai pandangan / slogan yang injili. Tetapi dalam bagian lain dari artikel yang sama ia berkata sebagai berikut:

· “Apakah sisi lain dari kebenaran yang harus kita pahami? Yaitu ini: bahwa sekalipun kita mengamini bahwa ‘Alkitab adalah firman Allah’, itu samasekali tidak berarti bahwa Alkitab adalah identik dengan firman Allah, atau bahwa firman Allah adalah identik dengan Alkitab! TIDAK! ... Yang ingin saya kemukakan adalah, bahwa ‘Alkitab’ dan ‘Firman Allah’ adalah dua pengertian yang berbeda. Tidak identik. Saya percaya dengan segenap hati bahwa ‘Alkitab adalah firman Allah’, namun itu tidak berarti bahwa saya percaya ‘firman Allah identik dengan Alkitab’” (hal 122).

· “Firman Allah, secara teologis, adalah Yesus Kristus, bukan Alkitab!” (hal 123).

· “Dengan demikian, yang ingin saya katakan adalah: Alkitab tetap mempunyai otoritas tertinggi bagi orang kristen dalam pemahaman dan ajaran imannya, tanpa mengidentikkan Alkitab itu dengan firman Allah sendiri” (hal 123).

· “Penulis-penulis Alkitab adalah manusia-manusia seperti kita, yang di samping keterbatasan-keterbatasan pribadinya, juga dibentuk oleh lingkungan sosio-kultural mereka dan oleh tingkat perkembangan peradaban serta ilmu pengetahuan di zaman mereka. Keterbatasan manusiawi ini memang dapat teratasi sekiranya Tuhan hanya memakai mereka sebagai ‘benda-benda’ mati, seperti pena atau pensil yang kita pakai untuk menuliskan kehendak kita. Namun jelas sekali, Tuhan tidak memakai mereka dengan cara seperti itu. Sebab sekiranya cara itulah yang dipakai oleh Tuhan, maka pastilah seluruh Alkitab paling sedikit akan mempunyai gaya bahasa dan mempergunakan kosa kata yang sama. Ternyata tidak! Perhatikan betapa berbedanya bentuk dan gaya kitab Kejadian dengan kitab Tawarikh, antara kitab Imamat dan kitab Mazmur, antara kitab Yesaya dan kitab Kidung Agung, dan sebagainya. Perhatikan pula gaya yang amat pribadi dari surat-surat Paulus. Itu berarti Tuhan memakai para penulis itu dengan seluruh kepribadian mereka, dengan segala kelebihan dan ... keterbatasan mereka! Benar bahwa Alkitab itu diwahyukan oleh Allah. Namun wahyu itu disampaikan kepada kita melalui manusia. Manusia yang dipakai oleh Allah bukan sebagai pena atau pensil, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang hidup. Keadaannya dapat Anda bayangkan demikian. Anda ingin menyampaikan sebuah berita dukacita kepada seseorang yang mengalami musibah ditinggalkan kekasihnya secara tiba-tiba oleh karena kecelakaan. Namun Anda tidak menyampaikan berita ini secara langsung kepada yang bersangkutan. Anda meminta pertolongan beberapa orang untuk menyampaikan berita itu. Apa yang terjadi? Orang-orang itu akan menyampaikan berita yang sama. Tetapi sekaligus, berita yang sama itu akan disampaikan dalam bentuk dan cara yang amat berbeda-beda. Saya bayangkan, pasti tidak ada seorangpun yang secara langsung akan mengatakan: ‘Hei, Bung, kekasih Anda mati kecelakaan sore tadi!’. Masing-masing akan menambahkan bumbu-bumbu dan bunga-bunga untuk berita yang satu itu, sesuai dengan gaya mereka masing-masing. ... Kalau kita membaca Alkitab, kita harus menerima kedua-duanya. Disitu kita berhadapan dengan yang sepenuhnya ilahi dan sekaligus yang sepenuhnya manusiawi, dan menghargai yang manusiawi sebagai sarana untuk berjumpa dengan yang ilahi. Di dalam dan melalui yang terbatas dan tidak sempurna, Allah mau menyatakan kehendakNya yang kudus, kekal, mutlak dan universal. Itulah sebabnya Alkitab tidak hanya dibaca, apalagi sekedar untuk dipajang! Alkitab adalah firman Allah yang harus senantiasa kita gumuli, kita pelajari, kita cermati. Supaya ketika kita membaca Alkitab, kita berjumpa dengan Firman Allah! (hal 128-129).

b. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Pendeta yang menulis buku yang berjudul ‘Tuhan ajarlah aku’. Ada bagian-bagian dari buku itu yang seolah-olah menunjukkan bahwa ia percaya bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’, misalnya:

· “kita juga tidak setuju dengan paham liberalisme yang menolak Alkitab sebagai firman Allah” (hal 28).

· “Oleh karena itu penulisan Alkitab merupakan hasil inspirasi dan pengilhaman Roh Kudus sendiri (bdk. 2Tim 3:16)” (hal 131).

· “Sebagai jemaat Allah kita mengakui kewibawaan Alki­tab sebagai Firman Allah yang menuntun kepada keselamatan dan menjadi dasar normatif bagi kehidupan serta tingkah laku kita” (hal 211).

Tetapi dalam bagian lain dari bukunya ia menunjukkan ‘warna asli’nya, karena ia berkata:

¨ “Oleh karena itu firman Allah sejati tidak pernah hanya merupakan suatu kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci. Pendewa-dewaan kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci sebenarnya sama saja dengan pemberhalaan. Iman kristen menyadari, bahwa firman Allah sejati menjelma menjadi Yesus Kristus yang adalah Anak Allah. Artinya firman Allah sejati tidak pernah menjelma menjadi sebuah ‘buku yang turun dari sorga’” (hal 77).

¨ “Atas dasar pemikiran yang demikian, theologia Alkitab tidak pernah mendudukkan Alkitab sejajar dengan Firman Allah sendiri. Alkitab adalah alat yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan firmanNya. Sedangkan firman Allah yang sejati (realitas obyek­tif-ilahi) menjelma menjadi manusia yang kelihatan dan yang menyejarah. Sebab itu sikap penghargaan kita yang tinggi terhadap Alkitab sebagai alat dari firman Allah tidak boleh melebihi penghargaan kita kepada Yesus Kristus. Jadi Alkitab berada di bawah kuasa pribadi Yesus Kristus, tidak boleh sebaliknya!” (hal 214).

2. Prakteknya berbeda dengan slogannya.

Contoh:

· mereka tetap menyebut Alkitab sebagai Firman Allah, tetapi dalam prakteknya mereka tidak menekankan pengajaran Alkitab, dan bahkan sering tidak menggubris Alkitab, dan bahkan menginjak-injak Alkitab. Misalnya pendeta / gereja yang mau melakukan pemberkatan nikah kristen dengan non kristen, dan bahkan secara terang-terangan mengijinkan pelaksanaan hal ini dalam tata gereja mereka, padahal hal ini jelas bertentangan dengan 2Kor 6:14 - “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”.

· mereka tetap menyebut Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat / Penebus dosa, tetapi mereka tidak memberitakan Injil. Mungkin dalam gereja tersebut ada Komisi / Departemen P.I., dan bahkan aktivitas P.I., tetapi apa yang dilakukan sebetulnya bukanlah memberitakan Injil, melainkan hanya memberikan bantuan sosial (ini yang disebut dengan Social Gospel).

Karena itu, kalau saudara bertemu dengan seorang pendeta / pengkhotbah / gereja yang mempunyai slogan yang benar, jangan terlalu cepat percaya. Selidikilah lebih jauh / teliti bagaimana pendeta / pengkhotbah / gereja itu menguraikan slogannya, dan selidikilah juga apakah prakteknya sesuai dengan slogannya.

d) Mana yang lebih berbahaya: ‘Liberalisme yang terang-terangan’ atau ‘Liberalisme yang terselubung’?

Jawabannya jelas adalah ‘Liberalisme yang terselubung’. Sama seperti uang palsu yang makin mendekati aslinya tentu lebih membahayakan dari pada uang palsu yang tidak terlalu mirip dengan uang aslinya, demikian juga Liberalisme yang terselubung, yang lebih mirip dengan ajaran yang Alkitabiah / Injili, tentu lebih berbahaya dari pada Liberalisme yang terang-terangan, yang terlihat pertentangannya secara menyolok dengan ajaran yang Alkitabiah / Injili.

2) Pandangan Neo-Orthodox.

Tokoh dari pandangan ini adalah Karl Barth, yang mengajar / beranggapan bahwa Kitab Suci menjadi / adalah Firman Allah, kalau Allah memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita merasakan Allah berbicara kepada kita melalui FirmanNya). Tetapi kalau Allah tidak memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita tidak merasakan bahwa Allah berbicara kepada kita melalui FirmanNya), maka Kitab Suci bukanlah Firman Allah. Jadi Kitab Suci adalah Firman Allah secara subyektif, bukan secara obyektif.

Ini jelas juga merupakan ajaran yang sesat, karena kalau demikian, Firman Allah tidak bisa menghakimi / dipakai untuk menghakimi manusia pada akhir jaman (bdk. Yoh 12:47-48 Ro 2:12), karena manusia yang tidak merasa bahwa Allah menegur dosanya, sebetulnya tidak pernah menerima teguran dari Firman Allah.

Ada ajaran populer dalam kalangan Kharismatik yang mirip dengan ajaran Neo-Orthodox ini, yaitu ajaran tentang ‘RHEMA’. Orang-orang Kharismatik membedakan kata-kata Yunani ‘RHEMA’ dan ‘LOGOS’ (yang sebetulnya keduanya berarti ‘kata’ / ‘firman’) dengan cara sebagai berikut:

a) John F. MacArthur, Jr., dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics’, hal 69, berkata bahwa Charles Farah, seorang profesor di Oral Roberts University mengatakan sebagai berikut: “LOGOS is the objective, historic word and RHEMA is the personal, subjective word” (= LOGOS adalah firman yang bersifat sejarah dan obyektif dan RHEMA adalah firman yang bersifat pribadi dan subyektif).

Dan dalam buku yang sama hal 70 John F. MacArthur, Jr. berkata bahwa Charles Farah juga berkata bahwa:

· “The LOGOS becomes RHEMA when it speaks to you” (= LOGOS menjadi RHEMA kalau itu berbicara kepadamu).

· “The LOGOS is legal while the RHEMA is experiential” [= LOGOS itu bersifat hukum (?) sedangkan RHEMA adalah sesuatu yang dialami].

· “The LOGOS does not always become the RHEMA, God’s word to you’”(= LOGOS tidak selalu menjadi RHEMA, firman Allah bagimu).


b) Orang Kharismatik sering berkata:
‘Kalau RHEMAnya turun ...’.

Ini berarti bahwa ia mendapat suatu pimpinan / perintah secara pribadi dari Tuhan, langsung kepada hati / pikirannya. Dan RHEMA yang turun itu bisa berupa ayat Kitab Suci ataupun tidak.


Dasar Kitab Suci yang dipakai oleh orang-orang Kharismatik:

· Luk 3:2 - ‘datanglah firman (RHEMA) Allah kepada Yohanes’.

· Mark 14:72 dan Mat 26:75 (dua ayat ini paralel) - Petrus teringat akan kata-kata (RHEMA) Tuhan Yesus.

· Juga Luk 24:8 dan Kis 11:16 menggunakan kata RHEMA.

Kesalahan ajaran ini:

1. Mark 14:72 dan Mat 26:75 paralel dengan Luk 22:61, tetapi, kalau Mark 14:72 dan Mat 26:75 menggunakan RHEMA, maka Luk 22:61 ternyata menggunakan LOGOS!

Demikian juga, kalau Luk 24:8 dan Kis 11:16 menggunakan kata RHEMA, maka Kis 20:35 menggunakan LOGOS, padahal ketiga ayat ini sama-sama berbicara tentang seseorang yang teringat akan kata-kata Yesus!

Dari contoh-contoh ini terlihat bahwa LOGOS dan RHEMA digunakan secara interchangeable (= bisa dibolak-balik) dan tidak ada batasan yang terlalu jelas antara RHEMA dan LOGOS!

Karena itu membedakan RHEMA dan LOGOS seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kharismatik, adalah sesuatu yang tidak berdasar!

2. Orang-orang Kharismatik berkata bahwa kalau firman itu berbicara kepada kita, maka LOGOS itu berubah menjadi RHEMA.

Tetapi dalam Kis 2:41 4:4 8:14 11:1 13:48 sekalipun firman itu jelas berbicara kepada orang-orang itu (karena mereka bertobat), tetapi toh digunakan kata LOGOS dan bukannya RHEMA!

Demikian juga 1Pet 1:23 menggunakan kata LOGOS, padahal firman di sini adalah firman yang melahirbarukan (ini lahir baru dalam arti luas)!

3. Ajaran yang berkata The LOGOS does not always become the RHEMA, God’s word to you” (= LOGOS tidak selalu menjadi RHEMA, firman Allah bagimu), jelas sekali berbau ajaran sesat Neo Orthodox, karena ajaran Neo Orthodox juga berkata bahwa kata-kata dalam Kitab Suci hanya menjadi firman Allah kalau berbicara kepada kita.

4. Ajaran Kharismatik tentang RHEMA ini berbahaya, karena ini menyebabkan banyak orang lalu mencari RHEMA tersebut dalam hati mereka, sehingga lalu mengabaikan Kitab Suci!

Memang Roh Kudus bisa mengingatkan kita akan Firman Tuhan (Yoh 14:26), tetapi kalau kita tidak pernah belajar / mengerti Kitab Suci / Firman Tuhan, maka tidak ada sesuatu yang bisa Ia ingatkan kepada kita! Karena itu, belajar Kitab Suci dengan sungguh-sungguh dan tekun haruslah menjadi prioritas dalam hidup kita!

3) Pandangan Orthodox.

Kitab Suci adalah Firman Allah secara obyektif. Jadi, apakah Kitab Suci itu diberitakan atau tidak, didengar oleh manusia atau tidak, dimengerti atau tidak, ditaati atau tidak, Kitab Suci tetap adalah Firman Allah. Dan pada waktu manusia mendengar pemberitaan Kitab Suci, apakah ia merasakan Allah menggunakannya untuk berbicara kepadanya atau tidak, Kitab Suci itu tetap adalah Firman Allah. Inilah pandangan yang benar yang harus kita terima.

II) Bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

A) Pengakuan dari dalam Alkitab sendiri.

1) Dalam Alkitab berulang-ulang dikatakan ‘Allah berfirman’.

Contoh: Yer 1:2,4,7.

2) Dalam Alkitab berulangkali dikatakan bahwa Allah menyuruh orang menuliskan FirmanNya.

Contoh: Kel 34:27 Yer 30:1-2 Wah 1:11,19.

3) Ro 3:1-2 secara jelas menyebutkan bahwa Alkitab (Perjanjian Lama) adalah Firman Allah (yang dipercayakan kepada orang Israel / Yahudi).

Ro 3:1-2 - “Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah”.

4) Kata-kata nabi / penulis Perjanjian Lama dianggap sebagai kata-kata Tuhan / Roh Kudus.

Contoh: bandingkan Yes 7:13-14 dengan Mat 1:22-23.

Yes 7:13-14 - “Lalu berkatalah nabi Yesaya: ... Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”.

Mat 1:22-23 - “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita”.


B) Bukti-bukti lain.

1) Alkitab bisa bersatu dan harmonis, padahal Alkitab ditulis dalam jangka waktu 1500-1600 tahun, oleh kurang lebih 40 orang, yang:

· hidup pada jaman yang berbeda.

· mempunyai latar belakang yang berbeda (ada yang petani, gembala, nabi, nelayan, raja, dsb).

· banyak yang tidak kenal satu sama lain.

Illustrasi: Kalau saya memberikan 40 buku kepada 40 orang dan menyuruh mereka menuliskan suatu karangan sesuka hati mereka, maka hasilnya pasti tidak akan bisa dikumpulkan menjadi satu buku. Mengapa? Karena isinya pasti akan bertentangan satu sama lain, atau sama sekali tidak berhubungan satu sama lain.

Tetapi kalau saya mengontrol / mengarahkan 40 orang itu, misalnya dengan menyuruh si A mengarang tentang mata manusia, si B tentang telinga manusia, si C tentang jantung manusia, si D tentang paru-paru manusia dst, maka besar kemungkinan hasilnya bisa dibukukan menjadi satu, menjadi buku biologi.

Jadi, kalau hasil dari 40 penulis Alkitab itu bisa dibukukan menjadi suatu buku yang bersatu dan harmonis, maka pastilah ada ‘Satu Orang’ yang menguasai / mengontrol dan mengarahkan ke 40 penulis tersebut. Dan siapakah yang bisa menguasai / mengontrol dan mengarahkan 40 orang yang hidup dalam jangka waktu 1500-1600 tahun? Hanya ada ‘Satu Orang’ yang bisa melakukan hal itu, dan itu adalah Allah sendiri.

2) Alkitab tidak bisa habis dipelajari.

Kalau saudara mempelajari buku lain, bagaimanapun tebalnya buku itu, maka pada suatu saat buku itu akan habis dipelajari dan saudara tidak akan bisa menambah pengetahuan apa-apa lagi dari buku itu. Tetapi Alkitab sudah dipelajari oleh jutaan manusia selama ribuan tahun, dan tidak ada seorangpun yang bisa tamat belajar Alkitab!

Ada yang mengatakan bahwa kalau buku lain itu seperti bak, yang sekalipun besar, tetapi kalau terus diambili airnya, maka airnya akan habis. Tetapi Alkitab seperti sebuah sumber, yang sekalipun terus diambili airnya, tidak akan pernah habis.

Kalau saudara belajar Alkitab, sekalipun makin lama saudara akan makin banyak mengerti tentang Alkitab, tetapi anehnya saudara akan melihat bahwa makin banyak juga hal-hal yang belum saudara mengerti tentang Alkitab.

Manusia tidak bisa mempelajari Alkitab secara tuntas, apalagi mengarangnya!

3) Semua nubuat / ramalan dalam Alkitab terjadi dengan tepat.

Manusia bisa meramal dengan:

· ilmu pengetahuan.

Misalnya: ramalan cuaca, ramalan akan terjadinya gerhana, ramalan dari dokter tentang umur seseorang (yang sudah sakit berat).

· kuasa gelap.

Ini macamnya banyak sekali, seperti penggunaan jailangkung, cucing, ramalan dengan melihat garis tangan (guamia), dsb.

Tetapi ramalan-ramalan itu pasti kadang-kadang meleset.

Tetapi semua nubuat / ramalan dalam Kitab Suci terjadi dengan tepat.

Contoh:

¨ Yes 7:14 - menubuatkan kelahiran Yesus dari seorang perawan.

¨ Mikha 5:1 - menubuatkan tempat kelahiran Yesus.

¨ Yes 53:3-7,9 dan Maz 22:1,8,9,16,17,19 menubuatkan penderitaan dan kematian Yesus.

¨ Mat 24:2 menubuatkan keruntuhan Bait Suci.

Dalam Yes 44:7 dan Yes 41:21-23a,25-27 dikatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa menubuatkan masa depan, berhala tidak bisa. Jadi, nubuat-nubuat yang digenapi dalam Kitab Suci ini membuktikan bahwa Kitab Suci memang adalah Firman Allah.

Memang dalam Kitab Suci ada nubuat / ramalan yang belum terjadi, seperti nubuat tentang kedatangan Kristus untuk keduakalinya. Tetapi tidak ada satupun nubuat yang meleset.

4) Alkitab tahu bahwa bumi ini bulat, dan tidak disangga oleh tiang-tiang, jauh sebelum manusia mengetahuinya (Yes 40:22 Ayub 26:7).

Yes 40:22a berbunyi: “Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi”.

Ayub 26:7 berbunyi: “Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan”.

Dulu manusia beranggapan bahwa bumi ini datar seperti meja. Manusia baru mengetahui bahwa bumi ini bulat pada abad 15, tepatnya pada tahun 1492 (Columbus). Tetapi hal itu ternyata sudah tertulis dalam Kitab Yesaya (abad 7 S.M., atau lebih dari 2000 tahun sebelum Columbus!), dan bahkan dalam kitab Ayub yang lebih kuno lagi! Dari mana penulis-penulis Alkitab itu mengetahui hal itu? Pada saat itu tidak ada seorang manusiapun yang tahu tentang hal itu. Jelas bahwa mereka mengetahui hal itu dari Allah!

5) Alkitab tetap terpelihara sampai sekarang padahal:

a) Alkitab adalah buku yg paling kuno. Tidak ada buku yang setua Alkitab. Kitab Kejadian sudah berusia 3500 tahun!

b) Banyak orang menyerang Alkitab untuk menghancurkannya. Ada serangan yang bersifat fisik, dan ada serangan yang berupa ajaran-ajaran sesat, misalnya:

· Seorang bernama Tom Paine menulis buku yang berjudul ‘The Age of Reason’ yang menyerang Alkitab, dan ia meramalkan bahwa bukunya akan laris di seluruh dunia sedangkan Alkitab hanya akan dijumpai di museum. Tetapi kenyataannya, sekarang Alkitab bisa dijumpai dimana-mana dan buku ‘The Age of Reason’ itu yang hanya bisa dijumpai di museum.

· Seorang bernama Voltaire mengatakan: 100 tahun setelah kematianku, Alkitab hanya akan ada di museum. Ternyata 100 tahun setelah kematiannya, tempat dimana ia mengucapkan kata-kata itu jatuh ke tangan Geneva Bible Society’, dan ruangan itu diisi penuh dengan Alkitab dari lantai sampai langit-langitnya.

Tetap terpeliharanya Alkitab, sekalipun diserang selama ribuan tahun, menunjukkan secara jelas bahwa Allah melindungi buku karanganNya itu!

6) Alkitab bisa ‘berbicara’ kepada kita!

Kesaksian:

· Yes 40:27-31 Yes 41:8-10 berbicara kepada saya pada waktu Sekolah Theologia di Amerika.

· Pada waktu saya dipanggil Tuhan, keluarga saya mengatai saya sebagai gila, karena meninggalkan ITS tingkat V untuk menjadi hamba Tuhan. Ternyata pada saat teduh bersama dengan keluarga, ayat yang diambil oleh buku saat teduhnya adalah dari Kis 26:24, dan renungannya berkata: ‘Orang kristen sering dianggap gila oleh dunia, tetapi sebetulnya bukan orang kristen yang gila, tetapi dunialah yang gila’.

III) Konsekwensi dari Alkitab sebagai Firman Allah.

A) Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah.

Satu hal yang perlu ditekankan adalah: kalau kita memang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, kita juga harus percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah. Memang semua agama mempunyai Kitab Sucinya sendiri-sendiri, dan setiap agama mengakui Kitab Sucinya sebagai Firman Allah. Tetapi, karena Kitab Suci dari agama yang satu bukan hanya berbeda tetapi bahkan bertentangan dengan Kitab Suci dari agama yang lain, maka tidak mungkin semua Kitab Suci - Kitab Suci itu adalah Firman Allah. Allah itu esa, dan Ia tidak berbi­cara dengan lidah yang bercabang. Karena itu, hanya ada satu Kitab Suci saja yang betul-betul adalah Firman Allah. Kalau kita mengakui Alkitab kita sebagai Firman Allah, maka kita tidak boleh mengakui Kitab Suci agama lain juga sebagai Firman Allah. Ini adalah sesuatu yang logis, bukan sikap fanatik yang picik / extrim dsb!

B) Alkitab tidak ada salahnya (infallible & inerrant).

1) Alasan untuk mempercayai ketidakbersalahan Alkitab.

Ada 2 hal yang menyebabkan kita harus mempercayai bahwa Alkitab itu tidak ada salahnya, yaitu:

a) Alkitab adalah Firman Allah.

Kalau Kitab Suci memang adalah Firman Allah, bagaimana Allah bisa salah dalam berbicara?

E. J. Young: “We must maintain that the original of Scripture is infallible for the simple reason that it came to us directly from God Himself” (= Kita harus mempertahankan bahwa Kitab Suci yang orisinil tidak ada salahnya karena alasan yang sederhana dimana Kitab Suci itu datang kepada kita langsung dari Allah sendiri) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 87.

Banyak orang Liberal yang mengatakan bahwa karena Allah menuliskan firmanNya menggunakan manusia, maka adanya faktor manusia ini memungkinkan / memastikan terjadinya kesalahan dalam Kitab Suci.

Ada 2 hal yang bisa kita berikan sebagai jawaban terhadap pandangan Liberal tersebut:

1. E. J. Young berkata sebagai berikut: “If actual error is found in the Bible, it is God, not the human writers, who is responsible for that error. From this conclusion there is no escape” (= Jika betul-betul ada kesalahan ditemukan dalam Alkitab, maka Allahlah, bukan para penulis manusia, yang bertanggung jawab untuk kesalahan itu. Ini adalah kesimpulan yang tidak terhindarkan) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 182.

2. Sekalipun Allah menggunakan manusia dalam menuliskan FirmanNya / Kitab Suci, itu tidak berarti bahwa Kitab Suci harus mengandung kesalahan, karena:

a. Allah mahakuasa!

Tidak bisakah Ia menggunakan manusia sedemikian rupa sehingga Kitab Suci betul-betul tanpa salah? Dalam diri Yesus, yang juga mempunyai faktor manusia, Allah bisa menjaga sehingga Yesus suci murni. Lalu mengapa ini tidak bisa Ia lakukan dalam menulis FirmanNya?

b. Allah sudah mempersiapkan penulis manusia itu sedemikian rupa sehingga ia menjadi alat yang cocok sempurna untuk menuliskan firmanNya. Dengan demikian, sekalipun kepribadian, pengalaman, dan pemikiran dari penulis itu masuk ke dalam Kitab Suci yang ia tuliskan, tetapi semua itu cocok sempurna dengan yang Tuhan kehendaki, sehingga apa yang ia tuliskan betul-betul adalah firman Allah.

E. J. Young mengutip kata-kata B. B. Warfield sebagai berikut:

“As light that passes through the coloured glass of a cathedral window, we are told, is light from heaven, but is stained by the tints of the glass through which it passes; so any word of God which is passed through the mind and soul of a man must come out discoloured by the personality through which it is given, and just to that degree ceases to be the pure word of God. But what if this personality has itself been formed by God into precisely the personality it is, for the express purpose of communicating to the word given through it just the colouring which it gives it? What if the colours of the stained-glass window have been designed by the architect for express purpose of giving to the light that floods the cathedral precisely the tone and quality it receives from them? What if the word of God that comes to His people is framed by God into the word of God it is, precisely by means of the qualities of the men formed by Him for the purpose, through which it is given?” (= Sebagaimana sinar yang melalui kaca berwarna dari jendela suatu katedral, adalah sinar dari surga, tetapi dikotori oleh warna-warna dari kaca yang dilaluinya; begitu juga dikatakan bahwa firman Allah yang melalui pikiran dan jiwa manusia pasti keluar dengan dikotori oleh kepribadian melalui mana firman itu diberikan, dan sampai pada tingkat itu berhenti menjadi firman yang murni dari Allah. Tetapi bagaimana jika kepribadian ini telah dibentuk oleh Allah menjadi kepribadian yang persis cocok sehingga mewarnai firman yang melaluinya sesuai tujuan Allah? Bagaimana jika warna dari jendela dengan kaca berwarna telah direncanakan oleh sang arsitek, dengan tujuan memberikan sinar yang memasuki katedral itu sifat dan kwalitet yang diterimanya dari warna-warna itu, persis seperti yang dikehendakinya? Bagaimana jika firman Allah yang datang kepada umatNya dibentuk oleh Allah menjadi firman Allah, dengan memakai kwalitet dari orang-orang yang dibentuk olehNya untuk tujuan itu, melalui siapa firman itu diberikan?) - ‘Thy Word Is Truth’, hal 64.

William G. T. Shedd: “The infallibility of Scripture is denied upon the ground that it contains a human element. The human is fallible and liable to error. If therefore the Bible has a human element in it, as is conceded, it cannot be free from all error. This is one of the principal arguments urged by those who assert the fallibility of Scripture. This objection overlooks the fact, that the human element in the Bible is so modified by the divine element with which it is blended, as to differ from the merely ordinary human. The written Word is indeed Divine-human, like the incarnate Word. But the human element in Scripture, like the human nature in our Lord, is preserved from the defects of the common human, and becomes the pure and ideal human. ... Those who contend that the Bible is fallible because it contains a human element commit the same error, in kind, with those who assert that Jesus Christ was sinful because he had a human nature in his complex person. Both alike overlook the fact that when the human is supernaturally brought into connection with the divine, it is greatly modified and improved, and obtains some characteristics that do not belong to it of and by itself alone” (= Ketidak-bersalahan Kitab Suci ditolak dengan dasar bahwa Kitab Suci mengandung elemen manusia. Elemen manusia ini bisa salah. Karena itu jika Alkitab mempunyai elemen manusia di dalamnya, seperti yang memang kita akui, maka Kitab Suci tidak bisa bebas dari semua kesalahan. Ini merupakan salah satu argumentasi utama yang diberikan oleh mereka yang menegaskan kebersalahan Kitab Suci. Keberatan ini melupakan / mengabaikan fakta bahwa elemen manusia dalam Alkitab begitu dimodifikasi oleh elemen ilahi dengan apa elemen manusia itu dicampurkan, sehingga berbeda dengan semata-mata manusia biasa. Firman yang tertulis memang adalah ilahi-manusiawi, seperti Firman yang berinkarnasi. Tetapi elemen manusia dalam Kitab Suci, seperti hakekat manusia dalam Tuhan kita, dijaga / dilindungi dari kesalahan dari manusia biasa / umum, dan men-jadi manusia yang murni dan ideal. ... Mereka yang berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena Alkitab mengandung elemen manusia, melakukan kesalahan yang sejenis, dengan mereka yang menegaskan bahwa Yesus Kristus berdosa karena Ia mempunyai hakekat manusia dalam pribadiNya yang komplex. Keduanya melupakan / mengabaikan fakta bahwa pada waktu elemen manusia itu dihubungkan secara supranatural dengan elemen ilahi, maka elemen manusia itu sangat dimodifikasi dan diperbaiki / ditingkatkan, dan mendapatkan beberapa sifat yang tidak dimilikinya dari dan oleh dirinya sendiri) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 101,102,103.

b) Ayat-ayat seperti Ul 4:2 Ul 12:32 Amsal 30:6 Mat 5:19 Wah 22:18-19 mengatakan bahwa kita tidak boleh menambahi ataupun mengurangi Alkitab.

Ul 4:2 - “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu”.

Ul 12:32 - “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya”.

Amsal 30:6 - “Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta”.

Mat 5:19 - “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga”.

Wah 22:18-19 - “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.

Kalau Alkitab ada salahnya, tentu kita boleh mengurangi / membuang bagian yang salah itu, dan lalu menggantinya / menambahinya dengan apa yang benar. Bahwa penambahan maupun pengurangan dilarang, menunjukkan bahwa Alkitab bebas dari kesalahan.

2) Yang dianggap murni tanpa salah hanyalah autograph / Alkitab aslinya saja.

Ketidakbersalahan ini berlaku hanya untuk autograph / Alki­tab aslinya (yang langsung ditulis oleh nabi / rasulnya), bukan untuk manuscript-manuscript / naskah-naskah, apalagi untuk Alkitab yang sudah diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain.

Perlu diketahui bahwa autograph sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah manuscript-manuscript, yang sudah mengandung kesalahan-kesalahan. Bahwa manuscript-manuscript ini memang mengandung kesalahan-kesalahan terbukti secara jelas karena:

· ada perbedaan antara manuscript yang satu dan manuscript yang lain.

· ada pertentangan yang tidak bisa diharmoniskan, misalnya 2Raja 8:26 (yang mengatakan bahwa Ahazia menjadi raja pada waktu berusia 22 tahun) bertentangan dengan 2Taw 22:2 (yang mengatakan bahwa Ahazia menjadi raja pada waktu berusia 42 tahun).

Mengapa Allah tidak menjaga supaya manuscript-manuscript itu juga inerrant? Untuk itu perhatikan kutipan di bawah ini.

William G. T. Shedd: “Why did not God inspire the copyists as well as the original authors? Why did he begin with absolute inerrancy, and end with relative inerrancy? For the same reason that, generally, he begins with the supernatural and end with the natural. For illustration, the first founding of his church, in both the Old and New dispensations, was marked by miracles; but the development of it is marked only by his operations in nature, providence and grace. The miracle was needed in order to begin the kingdom of God in this sinful world, but is not needed in order to its continuance and progress. And the same is true of the revelation of God in his written Word. This must begin in a miracle. The truths and facts of revealed religion, as distinguished from natural, must be supernaturally communicated to a few particular persons especially chosen for this purpose. Inspiration comes under the category of the miracle. It is as miraculous as raising the dead. To expect, therefore, that God would continue inspiration to copyists after having given it to prophets and apostles, would be like expecting that because in the first century he empowered men to raise the dead, he would continue to do so in all centuries” (= Mengapa Allah tidak mengilhami para penyalin sama seperti para pengarang orisinil? Mengapa Ia mulai dengan ketidakbersalahan yang mutlak dan mengakhiri dengan ketidakbersalahan yang relatif? Karena alasan yang sama dimana Ia biasanya mulai dengan hal-hal supranatural dan mengakhiri dengan hal-hal yang natural / alamiah. Sebagai ilustrasi: pendirian pertama dari gereja, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ditandai oleh mujijat-mujijat; tetapi perkembangan gereja hanya ditandai oleh pekerjaanNya dalam alam, providensia dan kasih karunia. Mujijat itu dibutuhkan untuk memulai Kerajaan Allah dalam dunia yang berdosa ini, tetapi itu tidak dibutuhkan untuk kelanjutan dan kemajuannya. Dan hal yang sama juga benar untuk wahyu Allah dalam Firman tertulisNya. Ini harus dimulai dengan mujijat. Kebenaran dan fakta dari agama yang diwahyukan, berbeda dengan yang alamiah, harus diberikan secara supranatural kepada beberapa orang tertentu yang dipilih secara khusus untuk tujuan ini. Pengilhaman termasuk kategori mujijat. Itu sama mujijatnya dengan pembangkitan orang mati. Karena itu, mengharapkan bahwa Allah terus mengilhami para penyalin setelah memberikannya kepada nabi-nabi dan rasul-rasul, sama seperti mengharapkan bahwa karena pada abad pertama ia memberikan kuasa kepada manusia untuk membangkitkan orang mati, Ia akan terus melakukan hal itu dalam semua abad) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 135-136.

Fakta bahwa Kitab Suci kita yang sekarang ini sudah mengandung kesalahan-kesalahan, tidak perlu menggoncangkan iman kita atau mengecewakan kita, karena kesalahan yang terjadi tidak mungkin merupakan kesalahan fatal. Apa dasarnya untuk mempercayai bahwa kesalahan yang terjadi tidak mungkin merupakan kesalahan yang fatal? Dasarnya adalah kebijaksanaan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan membiarkan kesalahan besar / fatal masuk ke dalam FirmanNya!

Satu hal lagi yang ingin saya persoalkan adalah suatu pertanyaan yang mungkin sekali akan muncul dalam persoalan ini, yaitu: apa gunanya kita mempercayai bahwa Alkitab asli (autograph) itu inerrant / tidak ada salahnya, padahal autograph / Alkitab asli itu sudah tidak ada lagi, dan manuscript-manuscript / naskah-naskah yang ada sudah tidak lagi inerrant? Bukankah itu menjadi sama saja dengan kepercayaan bahwa autographnyapun ada salahnya? Saya menjawab: tidak sama. Mengapa? Karena jika autographnya ada salahnya, maka kita tidak mempunyai cara / jalan untuk mengetahui bagian mana yang salah dan bagian mana yang benar. Tetapi jika manuscript yang salah, kita bisa mengetahui hal itu, karena biasanya akan terjadi perbedaan manuscript yang satu dengan manuscript yang lain.

4) Bahayanya memegang pandangan bahwa Alkitab ada salahnya.

William G. T. Shedd: “One or the other view of the Scriptures must be adopted; either that they were originally inerrant and infallible, or that they were originally errant and fallible. The first view is that of the church in all ages: the last is that of the rationalist in all ages. He who adopts the first view, will naturally bend all his efforts to eliminate the errors of copyists and harmonize discrepancies, and thereby bring the existing manuscripts nearer to the original autographs. By this process, the errors and discrepancies gradually diminish, and belief in the infallibility of Scripture is strengthened. He who adopts the second view, will naturally bend all his efforts to perpetuate the mistakes of scribes, and exaggerate and establish discrepancies. By this process, the errors and discrepancies gradually increase, and disbelief in the infallibility of Scripture is strengthened” (= Salah satu dari pandangan-pandangan tentang Kitab Suci ini harus diterima; atau Kitab Suci orisinilnya itu tidak bersalah, atau Kitab Suci orisinilnya itu bersalah. Pandangan pertama adalah pandangan dari gereja dalam segala jaman: pandangan yang terakhir adalah pandangan dari para rasionalis dalam segala jaman. Ia yang menerima pandangan pertama, secara alamiah akan berusaha untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dari para penyalin dan mengharmoniskan ketidak-sesuaian-ketidak-sesuaian, dan dengan itu membawa manuscript itu lebih dekat kepada autograph yang orisinil. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidak-sesuaian-ketidak-sesuaian berkurang secara bertahap, dan kepercayaan terhadap ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan. Ia yang menerima pandangan yang kedua, secara alamiah akan berusaha untuk mengabadikan / menghidupkan terus-menerus kesalahan-kesalahan dari ahli-ahli Taurat / para penyalin, dan melebih-lebihkan dan meneguhkan ketidak-sesuaian-ketidak-sesuaian itu. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidak-sesuaian-ketidak-sesuaian bertambah secara bertahap, dan ketidak-percayaan kepada ketidak-bersalahan Kitab Suci dikuatkan) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 137.

Catatan: yang dimaksud dengan ‘rasionalis’ adalah golongan Liberal, atau setidaknya mencakup golongan Liberal.

C) Alkitab tidak boleh ditambahi / dikurangi.

Kalau kita memang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, maka kita tidak boleh menambahi, atau menguranginya (Ul 4:2 Ul 12:32 Amsal 30:6 Mat 5:19 Wah 22:18-19).

Alkitab yang kita akui terdiri dari 66 kitab, yaitu 39 kitab-kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru. Tentang kanon Perjanjian Lama tidak ada persoalan, karena pada jaman Yesus hidup di dunia ini, kanon Perjanjian Lama itu sudah lengkap, dan Yesus tidak mengubahnya sehingga dianggap sebagai menyetujuinya. Tetapi kanon Perjanjian Baru agak sukar untuk menentukan dan melalui proses cukup lama.

Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible: “Although there is little direct evidence from the earliest years, we have a good idea of how the New Testament took on its present shape. The first gatherings of Christians probably followed the practice of the Jewish synagogues and had regular readings from the Old Testament during their meetings. Since they were worshipping Jesus Christ, it was natural to them to add an account of some part of his life and teaching. At first this may have been in the form of a first-hand account from someone who had known Jesus during his lifetime. But then, as the churches grew in numbers, and as the eye-witnesses began to die, it became necessary to write these stories down. This was the way the four Gospels (Matthew, Mark, Luke and John) came into being, and they obviously had an important place in the worship and life of the early churches. Then the apostles and other leaders had written a number of letters to various churches and individuals. Since these often gave general guidance on Christian life and beliefs, their usefulness for the whole church was soon recognized. Acts was accepted because it continued the story from Luke’s Gospel. It preserved the only full account of the beginnings of Christianity. We know that by the year AD 200 the church was officially using the four Gospels - and no others, although fictitious tales about Jesus and writings by other Christian leaders who came after the apostles were in circulation. But the mainstream church clearly accepted only the Gospels of Matthew, Mark, Luke and John as their authority for the life and teaching of Jesus. By this time, too, Paul’s letters were generally accepted as of equal importance with the Gospels. It was only later that the remaining books of the New Testament became generally accepted. Revelation, for example, was certainly read in the second century. But not until the third century was it circulating widely. Hebrews was read towards the end of the first century, but took longer to become accepted in the Western churches. It was not generally acknowledged by the church in the West until the fourth century, partly because of doubts as to whether Paul wrote it. It took longer, too, for 2Peter, 2 and 3 John, James and Jude to be accepted by the church as basic Scripture. Perhaps this was because of questions about the content of these books. The New Testament books were mainly used at first for public reading. If they were unsuitable for this purpose, their usefulness must have seemed limited. It is clear that no church council arbitrarily decided that certain books composed the New Testament. Rather, over a period of time, the church discovered that certain writings had a clear and general authority, and were helpful and necessary for their growth. At the Council of Laodicea (AD 363) and the Council of Carthage (AD 397) the bishops agreed on a list of books identical to our New Testament, except that at Laodicea Revelation was left out” [= Sekalipun hanya ada sedikit bukti langsung dari tahun-tahun yang paling awal, kita mempunyai gagasan yang baik tentang bagaimana Perjanjian Baru mendapatkan bentuknya yang sekarang ini. Pertemuan (kebaktian) mula-mula oleh orang-orang Kristen mungkin mengikuti praktek dari sinagog-sinagog Yahudi dan mempunyai pembacaan biasa / teratur dari Perjanjian Lama dalam pertemuan / kebaktian mereka. Karena mereka menyembah Yesus Kristus, maka adalah wajar bagi mereka untuk menambahkan suatu cerita tentang beberapa bagian dari kehidupan dan ajaranNya. Mula-mula ini mungkin ada dalam bentuk cerita tangan pertama dari orang yang telah mengenal Yesus selama masa hidupNya. Tetapi lalu, karena gereja bertumbuh dalam jumlah, dan karena para saksi mata itu mati, maka menjadi perlu untuk menuliskan cerita-cerita itu. Inilah yang menyebabkan adanya keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), dan keempat Injil ini jelas mendapatkan tempat yang penting dalam penyembahan dan kehidupan dari gereja-gereja mula-mula. Lalu rasul-rasul dan pemimpin-pemimpin menulis sejumlah surat kepada berbagai-bagai gereja dan individu. Karena surat-surat ini sering memberikan bimbingan umum tentang kehidupan dan kepercayaan Kristen, kegunaan surat-surat ini untuk seluruh gereja segera diakui. Kitab Kisah Rasul diterima karena kitab itu melanjutkan cerita dari Injil Lukas. Kitab ini memelihara satu-satunya cerita lengkap tentang permulaan kekristenan. Kita tahu bahwa pada tahun 200 M. gereja secara resmi menggunakan 4 Injil - dan tidak ada yang lain, sekalipun cerita-cerita fiksi tentang Yesus dan tulisan-tulisan dari pemimpin-pemimpin Kristen lain, yang datang setelah rasul-rasul, ada dalam peredaran. Tetapi aliran utama gereja secara jelas menerima hanya Injil-injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sebagai otoritas mereka untuk kehidupan dan ajaran Yesus. Pada saat ini, juga, surat-surat Paulus secara umum diterima dan dianggap sama pentingnya dengan Injil-injil tersebut. Baru belakangan maka sisa kitab-kitab dari Perjanjian Baru diterima secara umum. Kitab Wahyu, misalnya, pasti dibaca pada abad kedua. Tetapi baru pada abad ketiga kitab ini beredar secara luas. Surat Ibrani dibaca pada akhir abad pertama, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima dalam gereja-gereja Barat. Surat Ibrani ini tidak diakui secara umum oleh gereja di Barat sampai abad keempat, sebagian disebabkan karena keraguan apakah Paulus menulisnya atau tidak. Juga 2Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yakobus, dan Yudas, membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima oleh gereja sebagai Kitab Suci dasar. Mungkin ini disebabkan karena pertanyaan-pertanyaan tentang isi dari kitab-kitab ini. Kitab-kitab Perjanjian Baru mula-mula digunakan pada umumnya untuk pembacaan di depan umum. Jika mereka tidak cocok untuk tujuan ini, kebergunaan mereka pasti kelihatan terbatas. Adalah jelas bahwa tidak ada sidang gereja yang memutuskan secara mutlak bahwa kitab-kitab tertentu membentuk Perjanjian Baru. Tetapi sebaliknya, dalam jangka waktu tertentu, gereja mendapatkan bahwa tulisan-tulisan tertentu mempunyai otoritas yang jelas dan umum, dan membantu dan penting untuk pertumbuhan mereka. Pada sidang gereja Laodikia (tahun 363 M.) dan sidang gereja Carthage (tahun 397 M.) para uskup menyetujui suatu daftar kitab-kitab yang identik dengan Perjanjian Baru kita kecuali bahwa pada sidang gereja Laodikia kitab Wahyu dihapuskan / tidak dipertimbangkan] - hal 68.

Catatan: sekalipun kelihatannya penentuan kanon Perjanjian Baru agak meragukan dan boleh dikatakan bersifat subyektif, tetapi perlu diingat bahwa Tuhan, yang adalah pengarang sesungguhnya dari Kitab Suci, pasti memimpin gereja dalam proses kanonisasi Perjanjian Baru tersebut.

Sekarang kita akan membahas penambahan dan pengurangan terhadap Alkitab yang dilakukan golongan-golongan tertentu.

1) Penambahan.

Ini dilakukan oleh:

a) Roma Katolik.

Mereka menambahi Alkitab dengan kitab-kitab yang disebut Deutrokanonika (= kanon yang kedua), yang tebalnya kira-kira 2/3 Perjanjian Baru. Dahulu, semua kitab-kitab Deutrokanonika ini diletakkan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi pada tahun 1992, Roma Katolik mengeluarkan ‘The Catechism of the Catholic Church’ (= Katekisasi Gereja Katolik), dimana diputuskan bahwa kitab-kitab Deutrokanonika itu diselipkan ke sela-sela kitab-kitab Perjanjian Lama, dan dianggap sebagai Perjanjian Lama!

‘The Catechism of the Catholic Church’, nomer 120, berbunyi sebagai berikut:

“It was by the apostolic Tradition that the Church discerned which writings are to be included in the list of the sacred books. This complete list is called the canon of Scripture. It includes 46 books for the Old Testament (45 if we count Jeremiah and Lamentations as one) and 27 for the New. The Old Testament: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua, Judges, Ruth, 1 and 2 Samuel, 1 and 2 Kings, 1 and 2 Chronicles, Ezra and Nehemiah, Tobit, Judith, Esther, 1 and 2 Maccabees, Job, Psalms, Proverbs, Ecclesiastes, the Song of Songs, the Wisdom of Solomon, Sirach (Ecclesiasticus), Isaiah, Jeremiah, Lamentations, Baruch, Ezekiel, Daniel, Hosea, Joel, Amos, Obadiah, Jonah, Micah, Nahum, Habakkuk, Zephaniah, Haggai, Zachariah and Malachi” [= Oleh Tradisi rasulilah Gereja membedakan tulisan2 mana yang harus dimasukkan dalam daftar kitab-kitab kudus. Daftar lengkap ini disebut kanon Kitab Suci. Itu mencakup 46 kitab untuk Perjanjian Lama (45 jika kita menghitung Yeremia dan Ratapan sebagai 1 kitab) dan 27 kitab untuk Perjanjian Baru. Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-Raja, 1 dan 2 Tawarikh, Ezra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, 1 dan 2 Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi].

‘The Catechism of the Catholic Church’, nomer 138, berbunyi sebagai berikut:

“The Church accepts and venerates as inspired the 46 books of the Old Testament and the 27 books of the New” (= Gereja menerima dan menghormati 46 kitab-kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai diilhamkan).

Catatan: bandingkan dengan Perjanjian Lama yang kita akui yang hanya terdiri dari 39 kitab!

Kristen Protestan menolak kitab-kitab Deutrokanonika ini sebagai Kitab Suci / Firman Allah dengan alasan:

1. Dalam Perjanjian Baru, ada kira-kira 260 kutipan langsung dari Perjanjian Lama, dan juga ada kira-kira 370 penggu­naan bagian-bagian Perjanjian Lama yang tidak merupakan kutipan langsung. Ini menunjukkan bahwa baik Yesus maupun rasul-rasul mengakui otoritas Perjanjian Lama sebagai Firman Allah, dan menggunakannya sebagai dasar hidup, iman dan ajaran mereka. Tetapi baik Yesus maupun rasul-rasul tidak pernah mengutip dari kitab-kitab Deutrokanonika tersebut sebagai dasar ajaran mereka, padahal kitab-kitab Deutrokanonika itu sudah ada pada jaman Tuhan Yesus hidup di dunia ini. Ini menunjukkan bahwa Yesus dan rasul-rasul / penulis-penulis Perjanjian Baru tidak mengakui kitab-kitab Deutrokanonika itu sebagai Firman Allah!

2. Penulis kitab-kitab Deutrokanonika itu sendiri tidak menunjukkan dirinya sebagai penulis Firman Tuhan yang diberikan Allah kepada manusia.

Untuk itu mari kita membandingkan Wah 22:18-19 yang terletak pada akhir Kitab Suci / Perjanjian Baru dengan 2Makabe 15:37b-38 (dulu ini terletak pada akhir dari kitab-kitab Deutrokanonika, yang seluruhnya diletakkan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru):

Wah 22:18-19 - “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus seperti yang tertulis di dalam kitab ini”.

Dari Wah 22:18-19 ini terlihat dengan jelas otoritas dari tulisan rasul Yohanes ini sebagai Firman Allah yang tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi.

Sekarang mari kita lihat 2Makabe 15:37b-38 yang berbunyi:

“Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini. Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku”.

Ini sama sekali tidak menunjukkan orang yang menuliskan Firman Tuhan di bawah pengilhaman Roh Kudus! Perhatikan kata-kata kukehendaki’ dan ‘hanya itulah yang mungkin bagiku. Bagaimana kita bisa mempercayai otoritas tulisan seperti ini, sedangkan penulisnya sendiripun tidak yakin akan kebenaran tulisannya!

3. Dalam kitab-kitab Deutrokanonika itu ada kesalahan-kesalahan, seperti:

· Yudit 1:1,7 menyebut Nebukadnezar sebagai raja Asyur di Niniwe, padahal sebetulnya Nebukadnezar adalah raja Babilonia (Daniel 4:4-6,30).

· Tobit 5:13 menceritakan tentang seorang malaikat yang bernama Rafael, yang berdusta dengan memperkenalkan dirinya sebagai ‘Azarya bin Ananias’, atau ‘Azarya anak laki-laki dari Ananias’.

Bagaimana mungkin kitab-kitab yang mengandung kesalahan seperti itu bisa disetingkatkan dengan Alkitab / Firman Allah?

4. Dalam kitab-kitab Deutrokanonika itu ada doktrin ‘salvation by works’ (= keselamatan karena perbuatan baik) yang sesat / tidak alkitabiah. Contoh:

· Tobit 4:10 - “Memang sedekah melepaskan dari maut dan tidak membiarkan orang masuk ke dalam kegelapan”.

· Tobit 12:9 - “Memang sedekah melepaskan dari maut dan menghapus setiap dosa”.

· Tobit 14:10-11a - “Nak, ingatlah kepada apa yang telah diperbuat Nadab kepada bapa pengasuhnya, yaitu Ahikar. Bukankah Ahikar hidup-hidup diturunkan ke bagian bawah bumi? Tetapi Allah telah membalas kelaliman Nadab ke atas kepalanya sendiri. Ahikar keluar menuju cahaya, sedangkan Nadab turun ke kegelapan kekal, oleh karena ia telah berusaha membunuh Ahikar. Karena melakukan kebajikan maka Ahikar luput dari jerat maut yang dipasang baginya oleh Nadab. Sedangkan Nadab jatuh ke dalam jerat maut yang juga membinasakannya. Makanya anak-anakku, camkanlah apa yang dihasilkan oleh sedekah dan apa yang dihasilkan oleh kelaliman”.

· Sirakh 3:3: “Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa”.

Doktrin yang tidak Alkitabiah ini jelas bertentangan dengan banyak ayat-ayat Kitab Suci yang menekankan bahwa kita bisa mendapatkan keselamatan bukan melalui perbuatan baik kita tetapi hanya melalui iman kita, seperti:

¨ Ro 3:24 - “dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.

¨ Ro 3:27-28 - “Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.

¨ Ro 10:30-32 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah mem-peroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan.

¨ Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.

¨ Gal 2:21b - “... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

¨ Ef 2:8-9 - “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

¨ Fil 3:7-9 - “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranKu sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

Disamping kitab-kitab Deutrokanonika, Roma Katolik juga banyak menggunakan keputusan Paus, keputusan Sidang gereja, tulisan Bapa-Bapa gereja, sebagai dasar ajaran. Dari semua penambahan-penambahan inilah muncul ajaran-ajaran yang asing, yang sebetulnya tidak pernah ada dalam Alkitab, seperti:

¨ tentang Maria.

* Maria adalah perawan yang abadi.

* Maria tidak berdosa (baik dosa asal maupun dosanya sendiri).

* doa maupun penyembahan kepada Maria atau patungnya.

* setelah mati, Maria bangkit dari antara orang mati dan lalu naik ke surga dengan tubuh jasmaninya seperti Yesus.

¨ ajaran tentang api pencucian.

¨ larangan bagi hamba Tuhan / pastor untuk menikah.

¨ dsb.

b) Gereja-gereja Kharismatik yang menekankan pengalaman, nubuat, Tuhan bicara, dsb.

· pengalaman.

Memang tidak salah seseorang menyaksikan / mensharingkan apa yang ia alami, asal ia tidak menjadikan hal itu sebagai rumus, seakan-akan semua orang harus mengalami apa yang ia alami. Pengalaman seseorang hanya boleh dijadikan rumus, yang harus juga dialami oleh orang lain, kalau pengalaman itu mempunyai dasar Kitab Suci. Misalnya Kitab Suci jelas mengajar bahwa orang yang percaya kepada Yesus akan mendapatkan damai / sukacita (Mat 11:28 Yoh 14:27 Gal 5:22). Kalau seseorang bertobat / percaya kepada Yesus, dan ia lalu mengalami damai / sukacita, maka pengalaman itu boleh dijadikan rumus. Tetapi kalau seseorang sakit dan berdoa dan lalu sembuh, ini boleh disharingkan tetapi tidak boleh dijadikan rumus, karena Tuhan tidak menjanjikan untuk menyembuhkan semua orang kristen yang sakit.

Tetapi, dalam kalangan Kharismatik, ada banyak pengalaman yang tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang lalu dijadikan rumus, yang harus dialami oleh semua orang lain. Ini boleh dikatakan menambahi Kitab Suci.

· nubuat, Tuhan bicara, dsb.

Dalam kalangan Kharismatik juga banyak hal-hal seperti ini, dan banyak dari mereka tetap menerima ‘nubuat’ / ‘suara Tuhan’ itu sekalipun itu tidak sesuai dengan Kitab Suci. Ini jelas juga merupakan penambahan terhadap Kitab Suci.

Catatan: kalau suatu gereja / seorang pendeta menambahi Kitab Suci, maka biasanya gereja / pendeta itu juga akan mengurangi Kitab Suci, yaitu bagian-bagian Kitab Suci yang bertentangan dengan apa yang ditambahkan kepada Kitab Suci oleh gereja / pendeta tersebut.

2) Pengurangan.

Ini banyak dilakukan oleh gereja-gereja Liberal, yang:

a) Membuang Injil (berita tentang salib Kristus dan keharusan seseorang percaya kepada Yesus supaya bisa diampuni / diselamatkan), sehingga ajaran Kristen hanya menjadi ajaran moral / etika belaka, yang tidak terlalu berbeda dengan agama-agama yang lain.

Juga dalam ‘melakukan penginjilan’, mereka hanya melakukan kebaikan / kebaikan yang bersifat sosial (Social Gospel), tetapi tidak memberitakan Kristus yang tersalib untuk menebus dosa manusia, apalagi mendesak orang untuk percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat!

b) Menganggap cerita sejarah yang bersifat mujijat (seperti Yunus ditelan ikan, Laut Merah terbelah, Yesus membangkitkan orang mati, dsb) hanya sebagai illustrasi / perumpamaan / dongeng, tetapi tidak betul-betul terjadi. Atau mereka menafsirkannya sedemikian rupa sehingga lebih gampang diterima oleh akal (yang duniawi).

c) Membuang bagian-bagian Kitab Suci yang dianggap bertentangan dengan ‘ilmu pengetahuan’ (teori Darwin, umur bumi, umur fosil, dsb).

Sebetulnya Kitab Suci yang ditafsirkan dengan benar, dan ilmu pengetahuan yang benar, tidak mungkin bisa bertentangan. Tetapi ada banyak ‘ilmu pengetahuan’ yang sebetulnya hanya merupakan perkiraan / hipotesa, seperti teori Darwin, usia bumi yang ratusan juta tahun dsb, tetapi lalu dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa Alkitab itu salah karena tidak cocok dengan ‘hasil-hasil ilmu pengetahuan’ tersebut.

Dalam persoalan penambahan atau pengurangan terhadap Alkitab, kita perlu mengetahui bahwa dalam Alkitab ada bagian-bagian yang diragukan keasliannya, seperti:

1. Mark 16:8b-20 (dalam Kitab Suci Indonesia).

Catatan: TB2-LAI meletakkan bagian ini di dalam tanda kurung besar / tegak.

Dalam persoalan Mark 16 ini, ada 4 golongan manuscript:

· Memuat Mark 16:1-8a, tetapi tidak memuat Mark 16:8b dan Mark 16:9-20.

· Memuat Mark 16:1-8a dan Mark 16:8b, tetapi tidak memuat Mark 16:9-20.

· Memuat Mark 16:1-8a dan Mark 16:9-20, tetapi tidak memuat Mark 16:8b.

· New Geneva Study Bible mengatakan bahwa ada beberapa manuscript yang memuat Mark 16:1-8a, Mark 16:8b, dan Mark 16:9-20.

Catatan: dalam Mark 16 ini:

¨ NIV memberikan headnote sebagai berikut: “the two most reliable early manuscripts do not have Mark 16:9-20” (= Dua manuscript yang paling kuno dan paling bisa dipercaya tidak mempunyai Mark 16:9-20).

¨ NASB memberikan footnote: “Some of the oldest mss. do not contain vv 9-20” (= Beberapa dari manuscript yang paling kuno tidak mempunyai ay 9-20).

¨ Dalam RSV diberikan footnote / catatan kaki yang berbunyi sebagai berikut: “Some of the most ancient authorities bring the book to a close at the end of verse 8. One authority concludes the book by adding after verse 8 the following: But they reported briefly to Peter and those with him all that they had been told. And after this, Jesus himself sent out by means of them, from east to west, the sacred and imperishable proclamation of eternal salvation. Other authorities include the preceding passage and continue with verses 9-20. In most authorities verses 9-20 follow immediately after verse 8; a few authorities insert additional material after verse 14” (= beberapa otoritas / manuscript yang paling kuno mengakhiri kitab ini pada akhir ayat 8. Satu otoritas / manu­script menyimpulkan kitab ini dengan menambahkan setelah ayat 8 kata-kata ini: Tetapi mereka menyampaikan secara singkat kepada Petrus dan mereka yang bersama dengan dia semua yang telah dicer­itakan kepada mereka. Sesudah ini, Yesus sendiri memberitakannya dengan perantaraan mereka, dari Timur ke Barat, proklamasi kese­lamatan yang kudus / sakral dan tak bisa binasa itu. Otoritas / manuscript yang lain memasukkan bagian sebelumnya dan melanjutkan dengan ayat 9-20. Dalam kebanyakan otoritas / manuscript ayat 9-20 langsung menyusul ayat 8; sedikit otoritas / manuscript mema­sukkan tambahan materi setelah ayat 14).

¨ The New Scoffield Study Bible memberikan keterangan sebagai berikut: “Verses 9-20 are not found in the two most ancient manuscripts, the Sinaiticus and Vaticanus; others have them with partial omissions and variations. But the passage is quoted by Irenaeus and Hippolytus in the second and third century” (= Ayat-ayat 9-20 tidak ditemukan dalam dua manuscript yang paling kuno, Sinaiticus dan Vaticanus; manuscript-manuscript yang lain mempunyai ayat-ayat ini dengan penghapusan sebagian dan variasi-variasi / perbedaan-perbedaan. Tetapi bagian ini dikutip oleh Irenaeus dan Hippolytus dalam abad kedua dan ketiga).

¨ New Geneva Study Bible memberikan keterangan sebagai berikut: “Scholars differ regarding whether these verses were originally part of this Gospel. Some important early Greek manuscripts lack these verses, other manuscripts have vv 9-20 (known as the ‘longer Ending’), and still others have a ‘Shorter Ending’ (roughly one verse long). A few manuscripts have both the ‘Shorter Ending’ and the ‘Longer Ending’. Because of these differences, some scholars believe that vv 9-20 were added later and not written by Mark. On the other hand, the verses are cited by writers from the late second century and are found in the overwhelming majority of existing Greek manuscripts of the Gospel of Mark. For other scholars, these facts establish the authenticity of the passage” [= Para ahli berbeda pendapat tentang apakah ayat-ayat ini merupakan bagian orisinil dari Injil ini. Beberapa manuscript Yunani kuno tidak mempunyai ayat-ayat ini, beberapa manuscript yang lain mempunyai ayat-ayat 9-20 (dikenal sebagai ‘Akhiran yang panjang’), dan ada lagi manuscript-manuscript yang lain yang mempunyai ‘Akhiran yang pendek’ (kira-kira panjangnya satu ayat). Sedikit manuscript mempunyai baik ‘Akhiran yang pendek’ maupun ‘Akhiran yang panjang’. Karena perbedaan-perbedaan ini, beberapa ahli percaya bahwa ayat-ayat 9-20 ditambahkan belakangan dan tidak ditulis oleh Markus. Di lain pihak, ayat-ayat ini dikutip oleh penulis-penulis dari akhir abad kedua dan ditemukan dalam kebanyakan manuscript Yunani dari Injil Markus. Untuk para ahli yang lain, fakta-fakta ini menegakkan keaslian dari bagian ini].

Pengertian bahwa Mark 16:8b-20 merupakan bagian yang diperdebatkan keasliannya merupakan hal yang penting, karena Mark 16:17-18 sering dipakai oleh banyak orang Kharismatik untuk mengajarkan ajaran-ajaran yang extrim, misalnya bahwa orang kristen harus berbahasa roh, bisa memegang ular berbisa dan minum racun tanpa mendapat celaka, dsb. Tetapi ingat, bahwa bukan ini yang menyebabkan banyak orang mencurigai bahwa bagian ini tidak asli. Yang menyebabkan kecurigaan adalah adanya perbedaan manuscript.

2. Yoh 7:53-8:11.

Catatan: TB2-LAI juga meletakkan bagian ini di dalam tanda kurung besar / tegak.

Bahwa bagian ini adalah suatu bagian yang diragukan keasliannya, terlihat dari:

· Di atas Yoh 7:53, NIV menuliskan kata-kata ini: “The earliest and most reliable manuscripts do not have John 7:53-8:11” (= Manuscript-manuscript yang paling kuno dan paling dapat dipercaya tidak mempunyai Yoh 7:53-8:11).

· NASB meletakkan seluruh bagian ini dalam tanda kurung dan memberi catatan sebagai berikut: “John 7:53-8:11 is not found in most of the old manuscript” (Yoh 7:53-8:11 tidak ditemukan dalam mayoritas manuscript kuno).

· Footnote / catatan kaki RSV berkata sebagai berikut: “The most ancient authorities omit 7.53-8.11; other authorities add the passage here or after 7.36 or after 21.25 or after Luke 21.38 with variations of text” (= Otoritas-otoritas yang paling kuno membuang 7:53-8:11; otoritas-otoritas yang lain menambahkan bagian ini di sini atau setelah 7:36 atau setelah 21:25 atau setelah Luk 21:38 dengan perbedaan-perbedaan text).

· ASV meletakkan bagian ini dalam kurung dan lalu memberikan catatan kaki sebagai berikut: “Most of the ancient authorities omit John 7.53-8.11. Those which contain it vary much from each other” (= Mayoritas otoritas-otoritas kuno menghapus Yoh 7:53-8:11. Mereka yang mempunyainya berbeda banyak satu dengan yang lainnya).

· Dalam NEB (New English Bible), bagian ini ditulis pada akhir dari Injil Yohanes, dan diberi footnote / catatan kaki yang berbunyi sebagai berikut: “This passage, which in the most widely received editions of the New Testament is printed in the text of John 7.53-8.11, has no fixed place in our ancient manuscripts. Some of them do not contain it at all. Some place it after Luke 21.38, others after John 7.36, or 7.52, or 21.24” (= Bagian ini, yang dalam edisi Perjanjian Baru yang paling banyak diterima dicetak dalam text dari Yoh 7:53-8:11, tidak mempunyai tempat yang tetap / tertentu dalam manuscript-manuscript kita yang kuno. Beberapa dari mereka tidak mempunyai bagian ini sama sekali. Beberapa menempatkannya setelah Luk 21:38, yang lain setelah Yoh 7:36, atau 7:52, atau 21:24).

3. Yoh 5:3b,4.

Catatan: TB2-LAI juga meletakkan bagian ini di dalam tanda kurung besar / tegak.

Bahwa bagian ini adalah bagian yang diragukan keasliannya, terlihat dari:

· RSV dan NIV menghapus bagian ini dari textnya, dan hanya menuliskannya pada footnote (= catatan kaki).

· NASB menuliskan bagian ini dalam textnya, tetapi meletakkannya dalam tanda kurung.

4. Semua ayat-ayat yang dalam Kitab Suci Indonesia diletakkan dalam tanda kurung besar / tegak ® [.....].

Catatan: bagian yang ada dalam tanda kurung biasa ® (.....), tidak diragukan kebenarannya. Misalnya Yoh 1:38,42.

Contoh bagian yang diletakkan dalam tanda kurung besar / tegak:

a) Mat 6:13b.

Perlu diperhatikan bahwa ini adalah akhir dari Doa Bapa Kami yang sangat terkenal itu!

b) Mat 17:21.

Pengertian bahwa ayat ini merupakan ayat yang diragukan keasliannya merupakan hal yang cukup penting karena ayat ini digunakan oleh banyak orang untuk mengajar bahwa kalau kita mau mengusir setan kita harus berdoa dan berpuasa.

Ayat paralel dari Mat 17:21, yaitu Mark 9:29 termasuk bagian Kitab Suci yang asli, karena tidak ada dalam tanda kurung besar / tegak, tetapi Mark 9:29 ini hanya berbunyi: “JawabNya kepada mereka: ‘Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa’” (kata ‘berpuasa’ tidak ada!).

c) Mark 9:44,46.

d) Mark 11:26.

e) Mark 14:68c.

f) Mark 15:28.

g) Kis 8:37.

h) 1Yoh 5:7b-8a - ini sering dipakai sebagai dasar dari Allah Tritunggal.

i) Dll.

Saya sendiri condong untuk tidak menerima bagian-bagian ini sebagai Alkitab / Firman Allah. Memang sikap ini mempunyai resiko. Kalau bagian-bagian itu memang adalah Alkitab, maka itu berarti saya mengurangi Alkitab. Tetapi jangan lupa bahwa sikap menerima bagian-bagian itu sebagai bagian asli dari Alkitab, juga mempunyai resikonya sendiri. Kalau bagian-bagian itu memang bukan termasuk Alkitab, maka itu berarti bahwa orang yang mengambil sikap itu menambahi Alkitab.

Juga perlu diperhatikan bahwa kalau saya menolak bagian-bagian ini sebagai Alkitab, ini sangat berbeda dengan orang-orang Liberal yang menolak bagian-bagian tertentu sebagai Firman Allah. Perbedaannya adalah dalam hal motivasi. Saya menolak bagian-bagian ini justru karena saya sangat menghormati Alkitab dan karena itu saya tidak mau Alkitab ditambahi dengan bagian-bagian yang sebetulnya tidak termasuk Alkitab. Tetapi kalau orang Liberal menolak bagian tertentu dari Alkitab, itu terjadi karena mereka tidak menghormati, bahkan sebaliknya meremehkan, Alkitab.

D) Mencari dan mengisi diri dengan Alkitab / Firman Allah.

1) Mencari / mengejar Firman Tuhan.

Kepercayaan terhadap Alkitab sebagai Firman Allah akan sia-sia kalau tidak disertai dengan perwujudan yang sejalan dengan kepercayaan itu. Kalau kita memang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, maka kita harus mengejar / mencarinya secara mati-matian.

Amsal 2:1-5 - “Hai anak-anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah”.

Renungkan:

· yang mana yang lebih giat saudara lakukan? Mencari uang / harta / kekayaan, atau mencari hikmat / Firman Tuhan?

· kalau saudara tahu bahwa di suatu tempat ada harta terpendam, apakah saudara akan menunda dalam mencari / menggalinya? Apakah adanya tamu, adanya undangan pernikahan, adanya kesibukan menyebabkan saudara menunda untuk menggali harta terpendam itu? Kalau tidak, maka perhatikan bahwa ayat ini mengatakan bahwa saudara harus mengejar / mencari hikmat / Firman Tuhan lebih dari pada mengejar harta terpendam!

Amsal 23:23 - “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian”.

‘Membeli kebenaran’ berarti kita harus rela mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan kebenaran. Pengorbanan itu bisa berupa:

¨ uang.

Misalnya:

* untuk naik taxi / becak.

* untuk membeli buku / cassette khotbah.

Kebanyakan orang kristen lebih mau mengeluarkan uang untuk membeli majalah / cassette lagu, dari pada untuk membeli buku rohani / cassette khotbah!

* untuk membayar biaya Camp / Retreat / Seminar, dsb.

¨ waktu, tenaga.

Misalnya:

* menempuh jarak jauh untuk belajar Firman Tuhan. Kalau saudara bisa menghadiri undangan pernikahan di tempat yang jauh, tetapi tidak mau datang ke gereja yang sekalipun jauh tetapi ajarannya bagus, maka saudara lebih mengutamakan manusia dari pada Tuhan! Ingat juga bahwa Yesus rela meninggalkan sorga dan turun ke dunia, demi menyelamatkan saudara!

* mengorbankan ‘waktu bekerja’ untuk mencari Firman Tuhan, dengan catatan saudara bukanlah seorang pegawai, tetapi bekerja sendiri (dokter, toko, dsb).

* mengorbankan ‘waktu belajar’ untuk mencari Firman Tuhan, tetapi tentu dengan catatan bahwa saudara tetap harus bertanggung jawab dalam soal pelajaran.

¨ pikiran.

Maulah memeras otak pada waktu belajar Firman Tuhan. Banyak orang kristen yang dalam bekerja mau memeras otak, dan dalam pelajaran sekolah mau belajar dengan serius / mempelajari hal-hal yang sukar, tetapi keberatan untuk mendengar khotbah yang sukar! Bukankah ini merupakan pengutamaan hal jasmani di atas hal rohani?

2) Mengisi diri dengan Firman Tuhan.

Kita bisa mengisi diri kita dengan Alkitab / Firman Allah dengan cara:

a) Membaca Alkitab dengan rutin (setiap hari).

Perlu diketahui bahwa Kitab Suci menggambarkan Firman Allah sebagai makanan rohani bagi kita (1Kor 3:2 1Pet 2:2), dan karena itu harus kita ‘makan’ setiap hari. Juga perlu dicamkan bahwa orang kristen digambarkan oleh Kitab Suci sebagai ‘domba’, yang harus makan setiap hari, bukan sebagai ‘ular’, yang bisa makan hanya sebulan sekali.

Kita bisa membaca setiap hari dengan menggunakan buku-buku Saat Teduh, dan / atau membaca Kitab Sucinya secara langsung. Untuk ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan:

· Pilihlah buku Saat Teduh yang baik.

· Sebaiknya tetapkan waktu saat teduh itu.

Kalau saudara sudah menetapkannya pada pagi hari, maka sebaiknya lakukan itu selalu pada pagi hari. Mengapa? Karena kalau waktu untuk saat teduh itu diubah-ubah, sebentar pagi, sebentar malam, maka akan ada lebih besar kemungkinan untuk lupa mengadakan Saat Teduh itu.

· Berilah waktu yang cukup untuk Saat Teduh itu.

Melakukan Saat Teduh dengan tergesa-gesa menyebabkan saudara tidak bisa berkonsentrasi baik dalam doa maupun pembacaan Firman Tuhannya, dan ini akan menyebabkan Saat Teduh itu menjadi sia-sia.

· Berdoalah sebelum membaca Saat Teduh / Alkitab, untuk meminta Tuhan memberi terang kepada saudara supaya saudara bisa mengerti.

· Pada waktu membaca Saat Teduh, jangan hanya membaca buku Saat Teduhnya saja. Saudara harus membaca bagian Kitab Suci yang diberikan oleh buku Saat Teduh itu.

· Kalau saudara membaca Kitab Suci secara langsung tanpa menggunakan buku Saat Teduh, maka ada baiknya saudara membaca dari beberapa bagian Kitab Suci. Misalnya membaca 1 pasal dari Kitab Kejadian, satu pasal dari kitab Mazmur, dan satu pasal dari Injil Matius. Ini memang bukan peraturan yang mutlak, tetapi hal ini penting, karena:

* memberi saudara bacaan yang lebih bervariasi.

* kalau saudara membaca 3 pasal semuanya dari Kitab Kejadian, maka mungkin mula-mula tidak apa-apa. Tetapi setelah saudara menyelesaikan Kitab Kejadian, dan masuk Kitab Keluaran, maka saudara mungkin akan merasa jenuh membaca peraturan-peraturan yang ada di sana. Apalagi kalau saudara sudah memasuki Kitab Imamat, Kitab Bilangan, 1Tawarikh, dsb. Kejenuhan ini bisa membuat saudara berhenti membaca Alkitab! Tetapi dengan membaca dari 3 bagian Kitab Suci, maka kalau pada satu bagian saudara tidak mendapatkan apa-apa, maka saudara masih bisa mendapatkan sesuatu dari bagian-bagian yang lain.

Catatan: usahakan membaca 3 pasal sehari, maka seluruh Alkitab bisa saudara selesaikan dalam waktu kira-kira 1 tahun.

· Kalau saudara membaca Kitab Sucinya langsung dan saudara tidak bisa mengertinya, jangan itu membuat saudara frustrasi dan lalu berhenti. Sambil banyak berdoa untuk meminta pimpinan dan terang dari Tuhan, teruskanlah membaca, karena sekalipun ada bagian-bagian yang tidak bisa saudara mengerti, tetapi pasti juga akan ada bagian-bagian yang bisa saudara mengerti. Saudara bisa menanyakan bagian-bagian yang tidak saudara mengerti itu kepada pendeta saudara atau kepada orang kristen yang mempunyai pengertian Kitab Suci yang baik.

· Setelah selesai membaca Kitab Suci / Saat Teduh, berdoalah lagi untuk menanggapi apa yang sudah saudara baca.

b) Belajar Kitab Suci (Yak 1:25 - ‘meneliti’).

Belajar berarti menggali Kitab Suci lebih mendalam dari pada sekedar membacanya. Ini bisa saudara lakukan dengan mendengar khotbah, mengikuti Pemahaman Alkitab, mengikuti Seminar / Camp / Retreat, atau dengan membaca buku-buku rohani (tetapi awas, memilihnya harus hati-hati karena ada banyak buku yang sesat!).

Dalam belajar Kitab Suci, kita harus mau belajar dari orang lain, baik dengan mendengar khotbah / ajarannya ataupun membaca bukunya. Ada banyak orang yang cuma mau belajar langsung dari Tuhan, dan tidak mau belajar dari manusia. Ini adalah sikap bodoh dan sombong yang tidak pada tempatnya. Sekalipun Tuhan memang bisa mengajar langsung melalui Roh Kudusnya, tetapi Tuhan juga mengangkat hamba-hamba Tuhan untuk mengajar jemaat (Ef 4:11-15).

c) Merenungkan Kitab Suci (Maz 1:2 Maz 119:99).

Merenungkan Firman membuat kita lebih menghayatinya.

Misalnya kalau kita mendengar / belajar tentang penderitaan dan kematian yang mengerikan yang Yesus alami bagi kita, maka dengan merenungkan hal itu, kita bisa makin merasakan cinta Tuhan kepada kita.

Atau pada waktu Firman Tuhan menegur kita dari dosa tertentu, misalnya dalam persoalan kebencian, maka kita perlu merenungkan siapa orang yang kita benci, dan kita perlu bertobat dari hal itu.

d) Menghafalkan Kitab Suci (Yak 1:25 - ‘bukan hanya mendengar untuk melupakannya’).

Menurut saya, cara yang terbaik dalam menghafalkan Kitab Suci adalah dengan memberitakannya / mengajarkannya. Dengan memberitakan / mengajarkannya, saudara akan secara otomatis menghafalkan Kitab Suci.

Menghafalkan Kitab Suci ini penting dalam menghadapi serangan setan berupa godaan untuk melakukan dosa tertentu, ataupun ajaran sesat (bdk. Mat 4:1-11).

Catatan: Sekalipun pemberitaan Firman Tuhan yang bersifat insidentil (seperti Camp, Retreat, Seminar, KKR, dsb) itu penting, tetapi Firman Tuhan yang bersifat rutin (Kebaktian, Pemahaman Alkitab, Saat Teduh) jauh lebih penting dan berguna bagi pertumbuhan iman kita. Firman Tuhan yang bersifat insidentil hanya menjadi pelengkap, bukan dimaksudkan untuk berdiri sendiri.

Illustrasi: Ada 2 orang anak, yang pertama diberi makan biasa secara rutin (3 x sehari), yang kedua diberi makanan istimewa (di restoran yang termahal) tetapi hanya 3 bulan sekali. Yang mana yang bertumbuh?

Perlu juga ditekankan bahwa pengisian diri dengan Firman Tuhan ini harus dilakukan dengan tekun, dan tidak boleh ada ada saat dimana kita merasa sudah cukup mengerti Firman Tuhan dan lalu berhenti mengisi diri dengan Firman Tuhan.

Amsal 19:27 - “Hai anakku, jangan lagi mendengarkan didikan, kalau engkau menyimpang juga dari perkataan-perkataan yang memberi pengetahuan”.

NIV: “Stop listening to instruction, my son, and you will stray from the words of knowledge” (= Berhentilah mendengar instruksi, anakku, dan engkau akan tersesat dari kata-kata pengetahuan).

NASB: “Cease listening, my son, to discipline, and you will stray from the words of knowledge” (= Berhentilah mendengar, anakku, pada disiplin, dan engkau akan tersesat dari kata-kata pengetahuan).

Jadi, boleh dikatakan bahwa ayat ini memastikan kesesatan seseorang, yang sekalipun sudah banyak belajar dan mengerti Kitab Suci, tetapi lalu berhenti belajar Kitab Suci!

Illustrasi: bayi / anak yang setelah makan banyak dan bertumbuh menjadi besar, lalu berhenti makan, pasti akan mati.

E) Hargailah dan tinggikanlah otoritas Alkitab lebih dari apapun.

1) Karena Kitab Suci adalah Firman Allah, maka otoritasnya harus ditinggikan melebihi apapun, seperti:

· hukum / undang-undang negara.

· perintah / larangan orang tua, sekolah, suami / istri, pendeta / majelis / gereja, boss, dsb (bdk. Kis 5:29).

· logika / pikiran kita.

2) Otoritas Kitab Suci juga harus ditinggikan dalam mendengar suatu ajaran.

· Jangan mempercayai ajaran dari pendeta / tokoh yang manapun, kalau ajarannya tidak mempunyai dasar Kitab Suci, apalagi bertentangan dengan Kitab Suci (bdk. Kis 17:11). Banyak orang salah dalam hal ini, karena mereka menerima / menelan begitu saja ajaran dari pendeta / tokoh tertentu atau dogma gerejanya, padahal tidak ada dasar Kitab Sucinya.

· Sebaliknya, terimalah ajaran dari anak kecil sekalipun, kalau ajarannya memang sesuai dengan Kitab Suci.

· Juga, jangan menolak suatu ajaran yang mempunyai dasar-dasar Kitab Suci, kecuali saudara bisa menggugurkan dasar-dasar Kitab Suci dari ajaran tersebut.

F) Lakukan / taatilah Kitab Suci (Yak 1:22).

Tidak ada gunanya banyak belajar Kitab Suci, kalau kita tidak mentaatinya. Kalau saudara memang mempercayai bahwa Alkitab adalah Firman Allah, maka setelah mempelajarinya saudara harus mentaati ajaran Alkitab. Tidak mentaati ajaran Alkitab sama dengan tidak mentaati Allah. Tidak mempedulikan ajaran Alkitab sama dengan tidak mempedulikan Allah.

G) Beritakanlah Kitab Suci (Mat 28:19-20).

Memang tidak setiap orang dipanggil menjadi pendeta / pengkhotbah, tetapi setidaknya saudara bisa melakukan hal-hal di bawah ini:

· memberitakan Injil secara pribadi.

· mengajar secara pribadi, misalnya pada waktu mendengar ada teman yang mempunyai pandangan yang salah.

· membagikan traktat.

· mendukung gereja / pendeta yang betul-betul memberitakan Injil / Firman Tuhan, baik melalui doa, uang, tenaga, pikiran, dsb.

Seorang yang bernama Daniel Webster berkata sebagai berikut:

“If religious books are not widely circulated among the masses in this country, I do not know what is going to become of us as a nation. If truth be not diffused, error will be; if God and His Word are not known and received, the devil and his works will gain the ascendancy; if the evangelical volume does not reach every hamlet, the pages of a corrupt and licentious literature will; if the power of the Gospel is not felt throughout the length and breadth of the land, anarchy and misrule, degradation and misery, corruption and darkness, will reign without mitiga­tion or end” (= Kalau buku-buku agama / rohani tidak beredar secara luas di antara rakyat dalam negara ini, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita sebagai bangsa. Kalau kebenaran tidak disebarkan, maka kesalahanlah yang akan tersebar; kalau Allah dan FirmanNya tidak diketahui / dikenal dan diterima, setan dan pekerjaannya akan mendapatkan kekuasaan / pengaruh; kalau buku-buku injili tidak mencapai setiap desa, halaman-halaman yang jahat dan literatur yang tidak bermoral akan mencapainya; kalau kuasa Injil tidak dirasakan diseluruh lebar dan panjang negara ini, maka anarkhi dan pemerintahan yang salah, keburukan dan kesengsaraan, korupsi / kejahatan / kecurangan dan kegelapan, akan memerintah tanpa pengurangan atau akhir).

Seorang yang bernama Edmund Burke berkata:

“All that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing” (= Semua yang dibutuhkan supaya kejahatan menang adalah bahwa orang-orang yang baik tidak melakukan apa-apa) - dikutip dari buku Saat Teduh ‘Streams in the Desert’, vol 2, June 13.

Semoga kedua kutipan di atas ini bisa mendorong setiap orang kristen, terle­bih lagi setiap hamba Tuhan, untuk lebih giat dalam memberitakan Injil / Firman Tuhan. Mengapa? Karena memang salah satu alasan yang menyebabkan ajaran-ajaran sesat bisa terse­bar dan kejahatan bisa menang, adalah karena banyak orang kristen maupun hamba Tuhan yang tidak / kurang memberitakan Injil / Firman Tuhan!

-o0o-


Bagian ini harus dimasukkan ke ‘jawaban terhadap serangan terhadap inerrancy of the Bible’.

William G. T. Shedd: “The inspired writers were permitted to employ the astronomy and physics of the people and age to which they themselves belonged, because the true astronomy and physics would have been unintelligible. If the account of the miracle of Joshua had been related in the terms of the Copernican astronomy; if Joshua had said, ‘Earth stand thou still,’ instead of, ‘Sun stand thou still’; it could not have been understood” (= Penulis-penulis yang diilhami diijinkan untuk menggunakan ilmu perbintangan dan fisika dari orang dan jaman mereka sendiri, karena ilmu perbintangan dan fisika yang benar tidak akan dimengerti pada saat itu. Jika cerita tentang mujijat Yosua diceritakan dengan istilah-istilah dari ilmu perbintangan Copernicus; jika Yosua berkata: ‘Bumi berhentilah engkau’, dan bukannya ‘Matahari berhentilah engkau’; itu tidak bisa dimengerti pada saat itu) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 104.

William G. T. Shedd lalu menambahkan: “The modern astronomer himself describes the sun as rising and setting” (= ahli ilmu perbintangan modern sendiri menggambarkan matahari sebagai terbit dan terbenam) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 104.

William G. T. Shedd menambahkan lagi: “The purpose of the scriptures, says Baronius, is ‘to teach man how to go to heaven, and not how the heavens go.’” (= Tujuan dari Kitab Suci, kata Baronius, adalah ‘untuk mengajar manusia tentang jalan ke surga, dan bukannya bagaimana surga / langit berjalan’) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 104.